Kejagung Tetapkan Alex Noerdin dan Mudai Madang Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Korupsi PDPDE Sumsel

0 13

JAKARTA, Trasnews.co- 

Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) menetapkan mantan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin dan mantan Komisaris PDPDE Sumsel H Mudai Madang sebagai tersangka atas kasus dugaan tindak pidana korupsi di Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan (PDPDE Sumsel), Kamis (16/9/2021).

Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Supardi,  menyebutkan, selain Alex, penyidik juga menetapkan mantan Komisaris PDPDE Sumsel H Muddai Madang sebagai tersangka.

Supardi mengatakan, keduanya ditetapkan tersangka setelah menjalani pemeriksaan sejak pukul 09.00 WIB.

“Iya betul,” ujar Supardi saat dikonfirmasi soal penetapan tersangka Alex dan Muddai ini pada Kamis, 16 September 2021.

Supardi menjelaskan kedua tersangka itu ditahan di rumah tahanan (Rutan) terpisah, agar tidak saling mempengaruhi dan mempersulit penyidik Kejagung dalam mengungkap perkara dugaan tindak pidana korupsi PDPDE.

Menurut Supardi, tersangka Alex (saat ini anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Golkar) di Rutan KPK, sedangkan tersangka Mudai Madang (mantan Wakil Ketua Umum KOI) di Rutan Salemba Cabang Kejagung.

Keduanya ditahan selama 20 hari ke depan terhitung mulai hari ini Kamis 16 September 2021.

“Ditahan di dua lokasi yang terpisah,” jelasnya.

Terkait perkara tersebut, sebelumnya tim penyidik Kejagung juga sudah menetapkan dua orang jadi tersangka yaitu mantan Direktur Utama PDPDE Provinsi Sumsel Caca Isa Saleh S yang merangkap jabatan sebagai Direktur PDPDE Gas  dan mantan Direktur Dika Karya Lintas Nusa (DKLN) yang juga merangkap Direktur PDPDE Gas yaitu A Yaniarsyah Hasan.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, keduanya juga langsung ditahan selama 20 hari ke depan di Rutan Salemba cabang Kejagung dan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Seperti diketahui, perkara korupsi tersebut berawal dari perjanjian jual beli gas bagian negara antara KKS Pertamina Hulu Energi (PHE), Talisman dan Pacific Oil dengan Pemprov Sumsel. Hak jual ini merupakan participacing interest PHE 50 persen, Talisman 25 persen, dan Pacific Oil 25 persen yang di berikan dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan asli daerah Pemprov Sumsel.

Namun, pada praktiknya, bukan Pemprov Sumsel yang menikmati hasilnya, tapi PDPDE Gas yang merupakan rekanan yang diduga telah menerima keuntungan fantastis selama periode 2011-2019. PDPDE Sumsel yang mewakili Pemprov Sumsel hanya menerima total pendapatan kurang lebih Rp38 miliar dan dipotong utang saham Rp8 miliar. Bersihnya kurang lebih Rp30 miliar selama 9 tahun.

Sebaliknya, PT PDPDE Gas mendapatkan banyak keuntungan dari penjualan gas bagian negara ini. Diduga selama kurun waktu 8 tahun, pendapatan kotor sekitar Rp977 miliar, dipotong dengan biaya operasional, bersihnya kurang lebih Rp711 miliar. (mattanews.co/ fhy)

 

       

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.